Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. INDONESIA. Kode Pos 26254 Email:nagarimungka@gmail.com Http;//nagarimungka.blogspot.com.Hp.085263451902
Sunday, April 25, 2010
MUNGKA MENETAPKAN
Thursday, April 22, 2010
MUNGKA MEMILIH
Friday, January 15, 2010
PEMEKARAN JORONG NAGARI MUNGKA
- Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Nagari ini sepanjang pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Wali Nagari,
- Peraturan Nagari ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapakan.
Tembusan disampaikan pada Yth :
- Bapak Camat Mungka di Padang Loweh
- Lembaga Nagari Mungka
- Masyarakat Nagari Mungka ( melalui Surat Pemberitahuan )
Thursday, December 31, 2009
UKM MUNGKA
Kata pepatah “setiap kesulitan ada kemudahan, setiap hambatan pasti ada jalan”, benar adanya. Begitu juga yang dialami Drs. Hendra Triwarman (40 tahun). Disaat kesulitan pemasaran ikan lele segar karena over produksi yang menyebabkan harga jatuh, menimbulkan ide dan anugerah membuat lele asap.
Berawal dari produksi lele dari Kec. Mungka 5 – 7 ton/minggu dengan harga 10.000/kg, naik menjadi 10 ton/minggu yang dihargai 8500/kg, melonjak menjadi 20 ton/minggu tahun 2005 yang membuat harga anjlok 5000 – 4000/kg. Hal ini memacetkan lele 1 ton/minggu yang terbuang saja bila lele tersebut mati.
Berangkat dari masalah itu, Hendra begitu panggilannya memikirkan cara untuk menghindari kerugian itu. Pengawetan ikan lele dengan pengasapan (red;salai)merupakan bentuk solusinya. Mulailah ia mencoba-coba membuat dan memasarkan lele salai tersebut.
Keyakinan produk lele salai tersebut dapat diterima selera konsumen, maka permintaan mulai meningkat. Permintaan rutin tidak saja dari lokal Payakumbuh dan sekitarnya, tapi juga dari propinsi tetangga. Saat ini langganan Jambi dan Riau meminta pasokan rutin 200 – 300kg/minggu. Sementara Batu Sangkar dan bukittinggi meminta stok 100kg/minggu, terang bapak 1 anak ini.
Ditemui Kontributor Tabloid Pertanian Suara AFTA di kolam perbesaran lele yang berdekatan dengan industri Lele salainya di Belakang Surau Gadiang, Kec. Mungka, Wali Nagari Mungka ini menceritakan ikhwal usaha Kelompok Maju Bersama yang dapat menyangga harga lele segar dipasaran tersebut.
Perbesaran lele konsumsi telah dimulai sekitar tahun 2002 di Mungka. Seiring keuntungan yang diperoleh petani, maka semakin banyak yang menggantungkan hidupnya pada usaha ini tanpa memikirkan daya tampung pasar. Sampai akhirnya terdapat sekitar 76 peternak lele dengan produksi 20 ton/minggu.
Kemampuan bertahan dari krisis harga memang sisi lemah petani. Secara perlahan sebagian besar rontok. Setengahnya masih bertahan sampai sekarang dengan 2 – 5 kolam/peternak. Keberadaan Lele salai juga ikut menahan kestabilan harga pasar. “Kalau lele tidak habis dipasaran, kita bersedia membeli dengan harga pasar” kata Sumando Faperta Unand ini.
Menurut ayah Kintan Puti Alami (8 tahun) ini, idealnya harga jual lele 11.000/kg (7 – 8 ekor/kg), karena modal lele 8500/kg. Dengan 10.000 bibit untuk kolam 7 X 8 meter, diberi makan pelet, maka 2 - 2,5 bulan telah dapat dipanen 1 ton lele. Minimal hasil bersih akan diperoleh 3 – 4 juta. Kata pemilik 12 kolam lele ini.
Wali Nagari terbaik I tingkat Kab. Lima Puluh Kota (2008) ini memanen 4 kolam setiap 15 – 20 hari sekali dari 20 kolam yang dimilikinya. Menghasilkan 4 – 5 ton dengan harga minimal 8500/kg. 1 ton diantaranya dijadikan lele asap dibawah label “Alami”, kata suami Linda Oktaviana. SP yang hobby membordir ini.
Dengan produksi lele salainya 400 kg/hari dan kapasitas maksimal 600 kg, Juara Wali Nagari Terbaik III tingkat Propinsi Sumbar (2008) ini memasarkan produk lele salainya 56.000/kg. Dengan kadar air 26 – 28% lele salainya dapat bertahan 3 bulan, sementara kadar air 30% dapat bertahan 1 bulan.
Atas usahanya mengembangkan produk olahan ikan yang meningkatkan daya saing produk ikan air tawar dan menyangga harga lele segar dipasaran, Hendra memperoleh Peringkat II dalam Lomba Teknologi Tepat Guna tingkat Kab. Lima Puluh Kota tahun 2006 atas rancangan oven pengasapan lelenya.
Mimpi Wali Nagari dengan 7 staf dan 6 jorong ini masih berlanjut untuk menciptakan pemasaran lele dan ikan salainya dengan menggunakan mobil box khusus yang dapat menjangkau pemasaran ketempat-tempat lain secara teratur. Keberadaan mitra pasar sangat diperlukan untuk menjamin distribusi dan mutu lele salainya.
SUARA AFTA TABLOID PERTANIAN, INFO PERTANIAN, PERIKANAN, PERKEBUNAN SUMATERA BARAT
Kamis, 05 Maret 2009
Monday, October 5, 2009
| Kecamatan Mungka merupakan salah satu Kecamatan Agropolitan di Sumatera Barat yang terletak diwilayah Kabupaten Lima Puluh Kota, dengan luas wilayah lebih kurang 103,13 Km2 dengan pusat pemerintahannya di Padang Loweh, 15 KM dari Kota Payakumbuh. Kecamatan Mungka memiliki 5 Nagari masing-masing Nagari Simpang Kapuak, Nagari Mungka, Nagari Talang Maur dan Nagari Jopang Manganti dan Sei.Antuan dengan jumlah penduduk 22.389 jiwa terdiri dari 11.024 jiwa laki-laki dan 11.472 jiwa perempuan, dari 22.389 jiwa jumlah penduduk Kecamatan Mungka 11.671 jiwa berada di Kenagarian Mungka . Topografi Kecamatan Mungka datar, berbukit dan bergelombang, Kecamatan Mungka dikelilingi oleh banyak bukit, diantaranya Bukit Apit, Bukit Palano, Bukit Binuang, Bukit Tapuang, Bukit Tanjung Balik, Bukit Sugak, Bukit Solok Parit, Bukit Tanah Runtuah, Bukit Rimbo Malintang, Bukit Hulu Mudiak Mangguang, Bikt Batu Payung, Bukit Batu Galih, Bukit Togang, Bukit, Bukit Batu Payuang dan Bukit Perhentian, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia , terutama air Kecamatan Mungka juga mempunyai aliran sungai, yaitu Batang Sinamar, Batang Maur, Batang Sopan, Batang Kundur, Batang Simpang, Batang Simun, Batang Mungka, Batang Batu Kambiang dann Lubuak Burai. Dalam kehidupan masyarakat mempunyai mata pencaharian 80 % sebagai petani, namun yang menjadi primadona untuk kesejahteraan masyarakat adalah usaha peternakan ayam ras dengan produksi 1.500.000 butir/hari yang pemasarannya terbanyak kedaerah Riau ( Pekanbaru ), usaha perikanan 200 kg/hari dan gambir 21 ton per minggu. Dan sebagai sarana pendukung perekonomian, masyarakat Mungka memiliki beberapa buah pasar ( Pokan ) yaitu Pokan Salasa di Nagari Mungka, Pokan Jumat di Jorong Kampuang Tangah dan di Jorong Talang Nagari Talang Maur dan di Balai Koto Tinggi Nagari Simpang Kapuak serta Pokan Rabaa di Jorong Simpang Abu Nagari Simpang Kapuak dan ditambah dengan pasar pagi diberbagai tempat. Sementara dalam upaya meningkatkan SDM ( Sumber Daya Manusia ), Kecfamatan Mungka memeliki fasilitas pendidikan, terdiri dari TK 9 buah, SD/MDA/MIS 23 buah dan SMP 2 buah, sedangkan sarana kesehatan terdiri dari 1 Puskesmas, 6 Pustu, 6 Polindes, 28 Posyandu dengan 2 orang dokter dan 20 orang perawat dan bidan. |
Sunday, October 4, 2009
USAHA "MAJU BERSAMA"
Nagari Mungka-Kec.Mungka
Izin Depkes RI-P-IRT: No. 2022130801016
komposisi : Ikan Lele dan Bumbu Alami
Telepon : 0752-97746
Hp. 08116603042
Bahan:
Daun singkong, cabe merah, bawang merah, jahe, kunyit, serai dimemarkan, daun kunyit, asam kandis, daun jeruk, dan santan dari satu kelapa ukuran sedang.
Caranya:
Semua bahan dicampur, kecuali daun singkong dan Ikan Salai Alami. Dimasak sampai mendidih sambil diaduk, agar jangan sampai pecah santan. Dimasukkan daun singkong dan Ikan Salai Alami sampai masak dan siap disajikan
Saturday, October 3, 2009
Kinerja Wali Nagari Mungka Dinilai Tim Kopetensi
| | |
| Wali Nagari Mungka Drs Hendra Triwarman dinilai tim Kompetensi Wali Nagari dan Kelurahan Propinsi Sumatera Barat Jumat ( 15/8). Ir Basril Basyar Ketua Tim Penilai sampaikan anggota tim yang ada indenpenden, terdiri dari pamong senior Drs.H Muchtiar Mukhtar mantan Wali Kota payakumbuh dari Balai Diklat Baso, Edi Utama dari Taman Budaya, Yusri Samad Dosen IAIN Padang yang didampingi oleh Zainuddin, SH dari Tapem Propinsi.
Tujuan tim turun adalah untuk melihat kinerja Wali Nagari dalam Pemerintahan, bidang peningkatan ekonomi, kemampuan wali nagari berkoordinasi dengan lembaga yang ada, bidang aspek pemberdayaan nagari, peran serta keterlibatan perempuan dalam pembangunan Nagari serta bagaimana pengembangan nilai – nilai adat budaya dan Agama di Nagari Mungka. Sementara Wali Nagari Mungka Hendra Triwarman dalam eksposnya sampaikan, bahwa mulai menjabat Wali Nagari sejak tahun 2005, dinagari Mungka banyak permasalahan yang dihadapi teruma permasalahan pemuda dengan pemerintahan nagari, dimana saking panasnya suasana sampai – sampai terbakar habisnya kantor Wali nagari, sehingga secara bertahap kantor Wali nagari kembali dibangun, selama 2 tahun kepemimpinannya terfokus kepada penyelesai pandangan pemuda terhadap pemerintahan nagari, yang selama ini mereka merasa tidak dibawa dalam membangun nagari , diwaktu itu banyak terjadi kenakalan remaja dan perkelahiran setiap ada keramaian dipesta perkawinan masyarakat, kemudian setelah dibao baiyo batido, masalah keamanan kita serahkan sepenuhnya kepada pemuda akhirnya hubungan pemuda dengan pemerintahan sudah harmonis yang akhirnya terbentuklah Pari Paga Nagari ( PPN ). Tahun ketiga tugas kita tertuju kepada kaum perempuan, dengan wadah PKK nya, karena kita lihat dengan 10 program pokok PKK sangat membantu kegiatan pemerintahan nagari, karena melalui merekalah semua potensi yang ada dapat digerakkan semua perencanaan dapat dilaksanakan. Kemudian Hendri Triwarman juga jelaskan kondisi Nagari Mungka, dimana Nagari Mungka memiliki jumlah penduduk 11.637 jiwa terdiri dari 5.696 laki-laki dan 5.941 jiwa perempuan atau 3.079 KK, Nagari Mungka di Sumatera barat terkenal dengan produksi telur jumlah ayam petelur di Nagarai Mungka berjumlah 1,8 juta dengan produksi rata-rata 1,4 juta butir/hari dan gambir 7 ton/minggu, disamping itu masyarakatnagari Mungka juga berusaha dibidang perikanan, untuk ikan lele saja keluar 15 ton/minggu dengan jumlah dengan jumlah peternak 176 KK. Sebelumnya Bupati Lima Puluh Kota yang diwakili Camat Mungka Fiddria Fala, katakan dimana Kecamatan Mungka memiliki 4 Nagari yaitu Nagari Mungka, Talang Maur, Jopang manganti dan Simpang Kampuak dengan jumlah penduduk 22 ribu lebih, separohnya berada dikenagarian Mungka yang tersebar di enam jorong dengan berpenghasilan utama ayam petelur dari 3 juta ekor ayam di Lima Puluh Kota 75 % nya berada di Nagari Mungka, namun yang menjadi kendala bagi peternak adalah masalah pakan dan DOC ( bibit ) yang semuanya sangat tergantung dari Medan, tambah Fiddria Fala . (Adli) Sumber:LENSA EKSPRES Saturday, 11 October 2008 |




